Senin, 21 Maret 2011

NILAI BUDAYA DAN ETIKA BAGI MAHASISWA: PENGENALAN DIRI

NILAI BUDAYA DAN ETIKA BAGI MAHASISWA: PENGENALAN DIRI: "APA SUKSESMU? Menjadi seseorang yang sukses tentu adalah impian semua orang, karena tidak ada satupun manusia yang sesungguhnya bermimpi un..."

NILAI BUDAYA DAN ETIKA BAGI MAHASISWA: PENGENALAN DIRI

NILAI BUDAYA DAN ETIKA BAGI MAHASISWA: PENGENALAN DIRI: "APA SUKSESMU? Menjadi seseorang yang sukses tentu adalah impian semua orang, karena tidak ada satupun manusia yang sesungguhnya bermimpi un..."

Sukses, Haruskah dengan nilai / IPK yang Tinggi...?


Beberapa Bulan lagi ITN malang akan melaksanakan wisuda tahun akademik 2010/2011. Mulai dari jenjang D2, D3, S1, maupun S2 mereka yang telah menyelesaikan studinya akan diwisuda pada hari ‘H’ nya nanti. Berkenaan dengan wisuda, di benak kita akan terbersit kata ‘kerja’, mungkin semua yang diwisuda pun akan berfikir itu. “Ke manakah saya setelah diwisuda nanti?” Mungkin mereka akan berkata seperti itu, sebagian lagi ada yang sangat gembira sekali karena sudah mendapatkan pekerjaan atau sudah ada perusahaan yang menunggu kedatangan mereka. Karena kreativitas mereka atau karena IPK mereka di atas rata-rata, sehingga ada beberapa perusahaan yang sudah siap merekrut mereka tanpa syarat ijazah. Dari uraian di atas sebagian orang mungkin bertanya seberapa besarkah pengaruh IPK terhadap kesuksesan seseorang? Karena sebagian besar perusahaan maupun instansi pemerintah pasti akan memberi standar IPK bagi mereka yang mau melamar pekerjaan.
IPK atau indeks prestasi komulatif (GPA or grade point average) merupakan nilai akhir evaluasi seorang mahasiswa selama jenjang perguruan tinggi baik tahap sarjana maupun tahap doktoral. IPK menjadi tolak ukur kecerdasan akademik seseorang dalam bidang tertentu di kampus. IPK yang tinggi pun menjadi sasaran utama mahasiswa-mahasiswa agar memiliki akses yang lebih mudah dalam berbagai hal, dari perihal melamar beasiswa, program pertukaran pelajar, lamaran kerja di perusahaan bagus, melanjutkan jenjang lanjut hingga untuk “memuaskan” diri sendiri, orang tua, ataupun sang pacar.
Namun kita harus mengakui bahwa kita cenderung (bahkan) hidup dalam dunia “dualisme”, selalu menemui hitam di samping putih, ada partikel ada gelombang, ada cinta di balik benci, ada baik di antara buruk, dan begitu juga nilai IPK, ada tinggi ada rendah. Sehingga ketika seseorang memiliki IPK yang tinggi, maka pasti ada orang lain yang ber-IPK rendah. Hal ini semakin jelas tatkala sebagian dosen masih menggunakan sistem distribusi normal ataupun Gaussian dalam memberikan nilai-nilai mata kuliah kepada mahasiswanya.
Sehingga dalam hal ini, jika anda memiliki nilai yang rendah, pada mata kuliah khususnya, dan pada Indeks Prestasi (IP) umumnya, maka anda tidak perlu berkecil hati. Karena IP bukanlah segala-segalanya untuk hidup.  Begitu juga hidup bukan segala-segalanya untuk IP. IP memang penting dalam berbagai aspek, namun IP akan menjadi jauh berarti jika dipadukan dengan nilai-nilai kepribadian super. IP lebih menunjukan kecerdasan inteligensia yang belum cukup berarti dalam kehidupan sosial tanpa disertai kecerdasan kepribadian (emosional + spiritual).

Berapakah “harga” IP?
Dewasa ini, paradigma seseorang (terutama di Indonesia) untuk melanjutkan studi hingga ke perguruan tinggi adalah agar cepat lulus dan mencari kerja. Sedangkan aspek fundamental lain yakni menjadi peneliti (researcher), inventor, ataupun inovator. Seyogyanya seorang sarjana mampu menciptakan lapangan pekerjaan sebagai bentuk kontribusi bagi perkembangan ilmu, teknologi, dan ekonomi masyarakat dan bangsa. Namun, tampaknya banyak perguruan tinggi saat ini memiliki sistem akademik yang cenderung hanya menjadi institusi “penyalur kerja“.
Karena paradigma sebagian besar mahasiswa adalah lulus untuk bekerja, maka timbul pertanyaan, “Seberapa pentingkah IP agar saya mendapatkan pekerjaan? Atau lebih detail lagi, “Seberapa penting IP bagi karir pekerjaan saya?
Untuk menjawab pertanyaan tersebut, maka kita akan berbicara tentang realita mencari pekerjaan. Sempitnya lapangan pekerjaan dan luasnya job seeker membuat perusahaan-perusahaan semakin selektif dalam menyaring calon karyawannya. Seratusan ribu lebih lulusan sarjana dan diploma tiap tahunnya akan diseleksi dalam beberapa tahap. Tahap pertama adalah seleksi administrasi yakni IPK. Hampir semua lowongan kerja saat ini mensyaratkan pelamar kerja harus memiliki IPK minimal 3.00 (adakalanya 2.75). Jika Anda memiliki nalar dan kecerdasan yang bagus, namun IPK anda dibawah 2.75, maka lamaran anda langsung dibuang jauh-jauh.
Jika anda telah lulus seleksi administrasi (IPK), maka seleksi tahap lanjut adalah psikotes, wawancara, dan adakalanya team building-problem and solving. Dua aspek akhir, wawancara dan problem solvingyang komprehensif merupakan ajang menilai kepribadian ++ kita, dari nalar, logika, sikap, skill, dan berbagai aspek problem solving. Aspek inilah yang sangat penting ke depannya ketika kita telah berada di perusahaan.
Hal ini pun telah diteliti secara mendalam oleh National Association of Colleges and Employers (NACE), Amerika Serikat pada tahun 2002. NACE melakukan survei terhadap 457 pemimpin perusahaan mengenai karateristik unggul seorang calon pekerja. Dari survei tersebut, diperoleh 20 kepribadian unggul (Winning Charateristic) lulusan yang paling dicari oleh perusahaan (diurutkan berdasarkan skor tertinggi) yakni sebagai berikut :
  1. Kemampuan Komunikasi
  2. Kejujuran/Integritas
  3. Kemampuan Bekerja Sama
  4. Kemampuan Interpersonal
  5. Beretika
  6. Motivasi/Inisiatif
  7. Kemampuan Beradaptasi
  8. Daya Analitik
  9. Kemampuan Komputer
  10. Kemampuan Berorganisasi
  11. Berorientasi pada Detail
  12. Kepemimpinan
  13. Kepercayaan Diri
  14. Ramah
  15. Sopan
  16. Bijaksana
  17. Indeks Prestasi (>=3.0)
  18. Kreatif
  19. Humoris
  20. Kemampuan Berwirausaha
Dari 20 karateristik unggul, “harga IP” jauh di bawah “harga kemampuan komunikasi”, bekerja dalam tim, etika, kejujuran. Tampaknya kejujuran lebih mahal daripada IP dalam dunia pekerjaan. Dalam hal ini, IP hanyalah menjadi kunci utama memasuki dunia kerja (sebaiknya di atas 2.75 atau bisa di atas 3.0 ). Namun setelah pintu telah terbuka, maka kunci IP sudah tidak dinilai tinggi lagi. Nilai-nilai kepribadian mentallah yang menjadi tolak ukur kita dalam meniti karir jangka panjang. Jadi, nilai IP hanya membawa short term succes (menjembatani dunia kerja), bukan long term succes (karir jangka panjang).

Perpaduan Inteligensia (IQ) dan Kepribadian (EQ)
Dari 20 karateristik unggul yang dirilis oleh NACE, dapat dibagi dalam dua bagian yakni bagian hijau dan bagian merah. Karateristik warna hijau merupakan karateristik yang lebih mengandalkan kekuatan kepribadian mental atau emotional quotient (EQ), sedangkan warna merah lebih mengandalkan kecerdasan nalar dan logika (IQ). Dari 20 karateristik tersebut, ternyata warna hijau alias EQ lebih dominan menentukan kesuksesan seseorang dibanding kekuatan IQ-nya dalam hal ini IP. Jadi, EQ kelihatannya memang jauh lebih penting dibanding IQ. Namun, ini bukan berarti IQ tidak penting. IQ dan EQ merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan.
Jadi kecerdasan IQ yang direpresentasikan IP bukanlah tolak ukur utama keberhasilan kita dalam dunia kerja khususnya maupun dunia kehidupan kita secara umum. Dalam kecerdasan IQ, hal yang sangat diperlukan adalah ketajaman nalar, logika, inovasi, dan kreasilah yang akan digunakan sepanjang hidup kita. Umumnya nilai kecerdasan nalar, logika, inovasi berbanding lurus dengan nilai IP (namun tidak selalu).

Menjadi Pribadi Sukses
Jika kita membaca hasil penelitan NACE tersebut dan disertai dengan sejumlah cerita keberhasilan orang-orang super, maka selalu ada kata kunci yang selalu mereka sampaikan yakni kerja keras, dorongan (motivasi), doa, integritas, dan disiplin yang semuanya merupakan kecerdasan mental. Sedangkan kecerdasan IQ atau bakat bukanlah senjata utama mereka yang telah sukses. Banyak entrepreneur yang sukses tanpa menyelesaikan pendidikan formal seperti Bill Gates, Matthew Mullenweg, Eka Cipta, Sudono Salim, Tukul, dan masih banyak lagi.
Mereka berhasil, karena mereka berusaha dan bekerja keras dengan pekerjaan mereka, terutama pekerjaan yang disukainya. Mereka bekerja tanpa ada desakan atau ancaman, namun mereka bekerja dengan semangat dan sukarela. Hal-hal ini menimbulkan emosi-emosi positif yang akan mentriger kecerdasan emosional kita. Nilai-nilai positif ini akan muncul dan dapat mempengaruhi kecerdasan inteligensia kita. Jika batin dan emosi kita lagi ceria dan bahagia, maka sangat mungkin sekali timbul ide, nalar, ataupun kreasi yang unik dan dashyat.
Pergunakan waktu untuk membentuk mental atau emosi positif, baik anda sebagai mahasiswa ataupun telah bekerja. Karena emosi positif (integritas, communication skill, etika, sopan) merupakan kunci-kunci yang membawa sukses dan menguatkankecerdasan nalar dan logika sehingga dapat berkembang lebih baik. Dan meskipun anda bukan lulusan sarjana ataupun diploma, anda pun dapat menjadi pribadi sukses. Karena sukses bukan semata dari sertifikat IP yang tinggi dari kampus.

Menuju Kedewasaan Intelektual Mahasiswa


Mahasiswa berasal dari dua suku kata yaitu, maha dan siswaMaha adalah sesuatu yang besar atau tinggi. Sementara siswa adalah pelajar atau yang mempelajari sesuatu. Jadi jelas mahasiswa adalah murid atau siswa yang memiliki tingkatan paling tinggi.
Kekayaan dan kecerdasan intelektual pada mahasiswa seharusnya lebih baik dibandingkan dengan murid SMA dan dibawahnya atau masyarakat yang tak pernah mengenyam pendidikan sama sekali. Karena untuk sampai pada jenjang mahasiswa, jelas tidak lah membutuhkan waktu yang singkat. Butuh waktu setidaknya duabelas tahun. Melalui proses Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP, dan Sekolah Menengah Atas (SMA). Dalam waktu yang lebih dari satu dasawarsa tersebut, jelas pembelajaran, pendidikan, dan pendewasaan intelektual terjadi secara perlahan. Proses perlahan yang bertahap dan selayaknya sudah mampu mencapai suatu titik dimana dapat disebut ‘dewasa’. Konteks dewasa di sini adalah suatu kematangan dalam berfikir. Suatu kematangan dalam mengambil sikap untuk menangani suatu hal.
Jika mendengar cerita – cerita dari kedua orang tua saya yang Alhamdulillah pernah mengalami masa menjadi seorang mahasiswa, mereka kerap bercerita bahwa, mahasiswa sekarang jauh lebih dipermudah dengan segala kemudahan sistem dibanding dengan mahasiswa di jaman mereka. Dulu, saat seorang mahasiswa tidak mampu lulus dalam suatu mata kuliah, maka mahasiswa tersebut harus mengulang seluruh mata kuliah pada tahun tersebut. Betapa sangat berbeda bukan dengan sistem perkuliahaan masa sekarang? Saat kita tidak lulus satu mata kuliah saja, maka kita hanya perlu mengulang mata kuliah yang tidak lulus tersebut, bahkan ada juga beberapa kampus yang menerapkan sistem remidi, dimana mahasiswa hanya perlu mengulang ujiannya saja. Kedua orang tua saya juga kerap mengatakan bahwa, jaman dulu, jika seorang mahasiswa lulus kuliah dalam waktu yang lama adalah hal yang wajar, dan sungguh suatu hal yang terlalu jika di jaman sekarang ini masih saja ada mahasiswa yang lulus kuliah dalam waktu yang begitu lama.
Bukan hal berapa lama seorang mahasiswa menyelesaikan kuliahnya yang ingin saya beberkan di sini. Hal di atas hanya sebuah contoh kecil pembanding saja. Bagaimana sudah jauh lebih mudahnya sistem yang ada saat ini. Seharusnya, dengan segala kemudahan tersebut mahasiswa dapat lebih meningkatkan produktivitasnya. Harus dapat lebih mendewasakan intelektualnya. Dapat lebih berfikir jauh ke depan. Karena tidak ada opportunity things yang harus dikorbankan seperti halnya mahasiswa di jaman bapak dan ibu saya dulu.
Lalu yang terjadi?
Yang terjadi adalah terlihat tidak terlalu dewasanya intelektual mahasiswa Indonesia. Mengapa saya dapat mengatakan hal ini? Apa yang saya lihat, apa yang saya dengar, dan apa yang saya alami membuat saya dapat mengatakan demikian. Banyak sekali siaran berita dan media massa yang memberitakan kebrutalan mahasiswa di daerah tertentu. Hal – hal pemicunya pun beragam. Ada yang karena masaah pribadi merembet menjadi masalah kelompok dan masalah – masalah lainnya. Solidaritas itu memang perlu, dan begitu diperlukan oleh bangsa ini dalam kehidupannya yang lebih dalam. Tapi apakah harus dengan adu otot? Saling lempar batu? Saling menunjukkan siapa yang paling berhasil menghancurkan kampus? Mahasiswa dididik dan diajar bukan untuk menjadi seorang petarung atau tentara perang. Mahasiswa dididik dan diajar untuk menjadi pemikir dan pemimpin bangsa di masanya nanti. Universitas atau setaranya adalah laboraturium kecil suatu bangsa. Lalu, apa jadinya jika di dalam suatu laboraturium kecil suatu bangsa justru terjadi adu jotos? Sepertinya lebih baik bangsa ini menambah satu harapan paling besar lagi untuk waktu ke depannya, yaitu menjadi bangsa petarung tinju terhebat di dunia. Bukankah mahasiswa diajari bagaimana cara menyelesaikan masalah dengan kepala dingin? Bagaimana berfikir logis dan tidak merugikan orang lain. Dalam organisasi kemahasiswaan pun sebenarnya mahasiswa dilatih untuk menghadapi konflik dengan cara – cara yang berpendidikan. Bukan denga cara yang bar – bar. Lalu, jika acara ‘tawuran’ yang pada akhirnya menjadi ujung, apa bedanya seorang mahasiswa dengan seorang pelajar SMP atau SMA? Apakah kapasitas intelektual seorang mahasiswa tak ada bedanya dengan murid SMP atau SMA? Apakah nantinya, bangsa ini juga akan menyelesaikan permasalahannya dengan ‘tawuran’?
Pada awal kita memasuki bangku kuliah, kedua orang tua kita pasti lah menginginkan sepenuhnya waktu kita digunakan untuk belajar. Harapan untuk dapat menyelesaikan kuliah pun juga pastinya mengiringi langkah kita memasuki gerbang perkuliahan. Tapi, semakin lama beberapa dari kita sadar, bahwa yang dibutuhkan oleh masa depan kita tidak lah hanya kuliah saja. Tidak hanya bergumul dengan buku dan membalutkan teori – teori tersebut di otak kita. Lalu, antara lain jawabannya adalah organisasi kemahasiswaan. Ya. Organisasi adalah salah satu cara lain bagi mahasiswa untuk mengembangkan dirinya. Bagaimana kita dapat belajar menerapkan dan melatih manajemen konflik kita. Bagaimana kita dibiasakan menghadapi permasalahan dengan berbagai watak manusia yang berbeda – beda. Bagaimana kita dikenalkan mengerjakan sesuatu dalam tekanan dan perbedaan konsep, lalu bagaimana cara kita mempersatukan konsep agar tujuan tercapai. Itu adalah beberapa hal yang organisasi kemahasiswaan tawarkan kepada para mahasiswa. Lebih lanjutnya lagi, diharapkan dengan organisasi kemahasiswaan, kita dapat memiliki link untuk mempermudah kita nantinya dalam mencari suatu pekerjaan.
Permasalahan yang timbul dan menguji kedewasaan seorang mahasiswa adalah saat seorang mahasiswa dihadapkan pada dua permasalahan yang sama – sama penting. Kuliah atau organisasi?
Tugas utama seorang pelajar dan mahasiswa adalah belajar. Tapi, seorang mahasiswa yang juga merupakan seorang organisator juga harus memiliki loyalitas terhadap organisasi yang diikutinya. Tugas seorang organisator adalah mengabdi kepada mahasiswa. Sering saya mendengar selogan “Organisasi jangan sampai mengganggu kuliah”, dan kemudian sering diplesetkan “Kuliah jangan sampai menganggu organisasi”.
Saya akui, keloyalan dan idealisme tidak lah dimiliki oleh semua mahasiswa. Tapi, amat sangat disayangkan jika loyalitas dan idealisme tersebut disalah gunakan. Seperti yang telah saya katakan, kewajiban utama seorang mahasiswa adalah belajar. Tapi, loyalitas seorang organisator memang sangat dibutuhkan. Lalu bagaimana, jika seorang mahasiswa lebih mementingkan organisasi dibandingkan kuliahnya? Saya tidak berhak menghakimi mahasiswa yang memiliki pilihan demikian. Setiap individu memiliki hak untuk menentukan pilihannya bukan?
Lalu bagaimana pula jika seorang mahasiswa meninggalkan organisasinya begitu saja sebelum habis periode kepengurusannya demi mengejar gelar sarjana? Apakah itu berarti mahasiswa tersebut tidak memiliki loyalitas? Apakah organisasi telah gagal mendidik dan mengajarinya menjadi seseorang yang loyal dan bertanggung jawab? Saya juga tidak dapat menghakimi mahasiswa yang memiliki pilihan ini.
Organisasi juga bukan lah ajang untuk mempamerkan popularitas atau kekuasaan. Organisasi lebih dalam lagi adalah suatu tanggung jawab. Bagaimana seorang organisator bertanggung jawab pada mahasiswa yang notabenenya adalah si empunya tertinggi suatu organisasi kemahasiswaan. Bagaimana keberlangsungan suatu organisasi kemahasiswaan tak hanya berdasarkan proker (program kerja) suatu periode kepengurusan. Karena, menurut saya, jika keberlangsungan suatu organisasi hanya berdasarkan suatu proker, maka organisasi tersebut sama halnya tak berjalan dengan hatinya sendiri. Di sini lah kedewasaan intelektual seorang mahasiswa dilatih, bagaimana para mahasiswa yang menjadi pengurus organisasi mampu menjalankan proker dengan baik, serta mampu menjalankan organisasi semakin ke depan dengan tetap menggunakan ‘hati’ organisasi tersebut.
Kedewasaan intelektual tidak hanya tercermin dari kemampuan mahasiswa dalam menghasilkan karya – karya tulis yang begitu memukau. Tidak juga sebatas indeks prestasi yang tinggi atau bahkan sempurna. Juga tidak berarti hanya sebatas keberhasilan seorang mahasiswa dalam mengembangkan organisasi kemahasiswaan yang diikutinya.
Kedewasaan intelektual sejatinya adalah serangkaian pemikiran dan sikap yang pada akhirnya dimiliki oleh seorang mahasiswa. Kemampuan untuk berfikir dan mengambil sikap sesuai yang dibutuhkan keadaan tertentu. Bagaimana seorang mahasiswa memilik tanggung jawab penuh atas kewajiban utamanya dan konsekuensi atas apa yang telah menjadi pilihan hidupnya.
Kedewasaan intelektual ini lah yang nantinya menjadi suatu cikal bakal kemajuan suatu bangsa. Kedewasaan intelektual ini bukan lah suatu revolusi atau hal yang instan. Ia membutuhkan proses yang lebih dari sati dasawarsa. Maka, kemajuan suatu bangsa juga bukan suatu hal yang mudah semudah menggembar – gemborkan pembangunan infrastruktur. Kemajuan atau lebih tepatnya kedewasaan suatu bangsa hanya akan terjadi jika para mahasiswanya memiliki kedewasaan intelektual yang arif.
Memilih adalah bagian dari suatu kehidupan. Setiap mahasiswa berhak memilih untuk menentukan pilihan hidupnya. Hanya saja bagaimana merekan bertanggung jawab atas pilihannya tersebut.