Dimensi Pengembangan Diri Bagi Mahasiswa
Mendapat Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3.00 mungkin impian bagi setiap mahasiswa. Harapan saat lulus kuliah mendapat IPK tinggi dengan masa kuliah yang pendek sangat menjadi idaman. Itu dari sisi jika kita berada pada posisi sebagai mahasiswa. Apa yang terjadi jika impian itu kandas ditengah semester berjalan. Mahasiswa, dosen, juga manusia biasa. Ada batas dan kemampuan untuk bisa mencapai semua impian tersebut. Ada yang harus diperhatikan, yaitu “Self-esteem & self-concept“, dimensi pengembangan diri pada mahasiswa dan dosen sangat diperlukan. Fungsi dosen wali memang diperlukan disini, apa fungsi utama dosen wali? Membimbing dan mengarahkan kemana arah dan tujuan mahsiswa agar cepat bisa menyelesaikan kuliah dengan tepat waktu dan mendapat IPK yang memenuhi standar kelulusan.
Walaupun tidak hanya IPK besar dan lulus tepat waktu. Kejadian yang pernah saya cermati tidak selamanya mahasiswa dengan IPK besar dan tepat waktu mengalami waktu tunggu untuk mendapat pekerjaan pendek, malah mahasiswa dengan IPK yang standar antar 2,4 sampai 2,8 bisa lebih cepat mendapat kerja. Lalu ada apa dibalik ini semua? Mengapa mahasiswa yang lebih pintar kadang waktu tunggu mendapat kerja lebih lama dibanding dengan mahasiswa yang biasa-biasa saja?
Sebelum saya bahas lebih lanjut, jangan salah menterjemahkan. Jika anda seorang mahasiswa, hindari pikiran “lebih baik biasa-biasa saja kuliah, toh yang pinter juga lama dapet kerjanya” bukan itu maksudnya. IPK besar dan kuliah tept waktu tetap bagus, hal ini diperlukan sebagai penilian pertama bagaimana kemampuan intelektual seseorang.
Self esteem jika saya tidak salah menterjemahkannya adalah Harga diri dan self-concept adalah konsep diri atau personal. Kedua dimensi ini merupakan aspek penting dari pengembangan mahasiswa dan pengukuran konsep-diri berarti saat atau dalam masa bimbingan mahasiswa. Beberapa literatur tentang hubungan antara prestasi dan konsep diri pada remaja memberikan bukti bahwa konsep diri akademik dapat menjadi alat prediksi kinerja akademik (prestasi mahasiswa). Trautwein dan Ludtke (2006) membahas dalam diskusi tentang harga diri, konsep diri akademik dan prestasi dalam sebuah artikel dalam Journal of Personality and Social Psychology. Mereka menunjukkan definisi dan perbedaan antara harga diri global, domain spesifik konsep diri akademik, dan prestasi. Mereka menyimpulkan bahwa efek timbal-balik telah ditemukan antara domain spesifik konsep diri akademik (yang dapat diukur dengan DOSC=Dimensions Of Self Concept) dan prestasi. Salah satu kesimpulan adalah bahwa domain spesifik konsep diri akademik adalah prediktor signifikan kemudian prestasi.
Baik kalau anda bingung dengan istilah-istilah diatas, saya artikan secara singkat seperti ini; Jika anda seorang dosen wali atau tenaga pendidik, Prestasi akademik memang penting bahkan sangat penting dikembakan akan tetapi rasa percaya diri, harga diri, kemampuan non akademik tidak kalah pentingnya. Mengapa demikian, tidak sedikit terjadi pada mahasiswa yang prestasi akademiknya cemerlang, cenderung ahli dalam bidang yang ditekuninya saja. Atau kebalikannya, mahasiswa yang prestasi akademiknya biasa saja, cenderung lebih banyak mengalihkan pada kegiatan yang sifatnya kebersamaan. Padahal kondisi yang ideal, Prentasi akademik baik, Percaya diri, banyak relasi, dan pandai berkomunikasi efektif. Hal ini jika berjalan secara sinergis, nilai “bargaining” atau posisi tawar saat melamar kerja akan lebih tinggi karena beberapa kelebihan yang dimilikinya.
Lalu apa yang perlu dikembangkan pada diri mahasiswa?
Pertama, Tingkat aspirasi mahasiswa harus dikembangkan. Mahasiswa artinya siswa dewasa, mereka memiliki aspirasi sendiri untuk bisa belajar dengan caranya sendiri. Dosen hanya mendukung saat mahasiswa sudah mulai keluar jalur. Biarakan pola belajar dikembangkan oleh mahasiswa sendiri. Tidak sedikit juga dosen merasa dirinya lebih pintar kemudian menularkan pola belajarnya saat masih menjadi mahasiswa kepada mahasiswa bimbingannya. Kalau ilmu yang diturunkan tidak masalah, akan tetapi pola belajar biarkan mahasiswa yang menentukan. Tekankan pada mahasiswa untuk tanggung jawab terhadap kuliahnya sendiri dan mengembangkan potensi-potensi akademiknya. Artinya jika dia salah di semester awal, maka akan berakibat buruk diakhir semester bahkan akan berdampak mendapat gelar MA. (Mahasiswa Abadi).
Pertama, Tingkat aspirasi mahasiswa harus dikembangkan. Mahasiswa artinya siswa dewasa, mereka memiliki aspirasi sendiri untuk bisa belajar dengan caranya sendiri. Dosen hanya mendukung saat mahasiswa sudah mulai keluar jalur. Biarakan pola belajar dikembangkan oleh mahasiswa sendiri. Tidak sedikit juga dosen merasa dirinya lebih pintar kemudian menularkan pola belajarnya saat masih menjadi mahasiswa kepada mahasiswa bimbingannya. Kalau ilmu yang diturunkan tidak masalah, akan tetapi pola belajar biarkan mahasiswa yang menentukan. Tekankan pada mahasiswa untuk tanggung jawab terhadap kuliahnya sendiri dan mengembangkan potensi-potensi akademiknya. Artinya jika dia salah di semester awal, maka akan berakibat buruk diakhir semester bahkan akan berdampak mendapat gelar MA. (Mahasiswa Abadi).
Kedua Hilangkan Keraguan, kegelisahan atau keraguan mencerminkan pola perilaku dan persepsi yang terkait dengan ketidakstabilan emosional, kurangnya objektivitas dan meng-hiperbolik kesulitan tentang tes dan menjaga harga diri dalam kaitannya dengan prestasi akademis. Dosen wajib menekankan bahwa semua mata kuliah itu mudah dan bisa ditempuh dengan dengan baik. Mahasiswa harus pula berpikir sanggup menyelesaikan mata kuliah yang diambil dengan nilai baik. Intinya kesulitan bisa diatasi, mata kuliah susah buat jadi mudah, dosen “killer” tidak masalah toh dosen juga manusia biasa bukan dewa.
Ketiga Mengarahkan sesuai Minat Bidang Kajian dan Kepuasan diri, hal ini akan menunjukkan tingkat motivasi internal dalam diri mahasiswa, melibatkan cinta belajar demi dirinya sendiri, yang diperoleh oleh para mahasiswa melakukan pekerjaan akademik dan dalam mempelajari mata kuliah baru. Tidak sedikit mahasiswa merasa minder bahkan tidak percaya diri saat masuk dalam dunia kerja tidak bisa apa-apa. Hal ini disebabkan dosen kurang mengarahkan kemana minat mahasiswa dan mahasiswapun kurang mau mengembakan dirinya.
Keempat Latih Kepemimpinan dan Inisiatif, hal ini akan tercermin ketika seorang mahasiswa menunjukkan penguasaan pengetahuan, kemauan, dan kemampuan untuk membantu dan memberikan bimbingan kepada orang lain, dan bangga tanpa layar atau tameng kesombongan dalam kemampuan melakukan pekerjaan dengan cepat dan baik. Hal sederhana adalah arahkan mahasiswa untuk BERTANGGUNG JAWAB terhadap rencana studinya. Tanamkan bahwa jika dia gagal, maka tidak sedikit orang-orang yang dikecewakan jika dia tidak konsekuen menjalankan rencana studinya. Orang tua, adik, kakak, saudara, teman, atau mungkin saja kekasihnya akan kecewa jika dia gagal dalam studi.
Kelima Alienasi, adalah sejauh mana mahasiswa merasa diterima oleh civitas akademik dan dihormati oleh para dosen serta rekan-rekan untuk pribadinya sendiri nilai dan integritas sebagai lawan dari perasaan terisolasi atau ditolak oleh lingkungan civitas akademik. Artinya pengakuan dari lingkungan sekitar kehidupan mahasiswa sehari-hari, maka bagi para dosen berusahalah bersikap adil. Jangan menganggap remeh kemampuan mahasiswa yang biasa-biasa pertasi akademiknya. Dibalik kekurangan prestasi akademik mahasiswa pasti masih memiliki potensi besar yang melekat dalam dirinya. Kalau mahasiswa pandai sudah pasti akan lebih mudah mendapat pengakuan dari pra dosen dan teman-temannya. Nah kalau begitu bagaimana nasib MaSaKom? Mahasiswa Satu Koma (mahasiswa dengan IPK Satu Koma Alhamdulillah) apakah tidak punya potensi? belum tentu, kadang dosen harus bertindak ekstra untuk bisa membuat mahasiswa MaSaKom menjadi MaDu KomPas (Mahasiswa Dua Koma Pas untuk lulus) dan meningkatkan menjadi mahasiswa Tiga Koma.
Posting ini bukan untuk bahan perdebatan, awalnya saya tidak tertarik membahas masalah ini. Tapi banyak melihat kasus mahasiswa tingkat akhir bermasalah di menjelang akhir masa studinya, dan kadang prilakunya tidak berbeda seperti siswa SMA yang masih dituntun oleh orang tuanya dalam menyelesaikan permasalahan studinya. Tipikal mahasiswa Indonesia umumnya belum bisa mandiri, dominasi bantuan subsidi biaya kuliah dari orang tua sangat berpengaruh terhadap kedewasaan mahasiswa. Karena masalah itu saya mulai menulis posting ini. Semoga bermanfaat untuk kita semua.